"JANGAN SERING TIDUR DENGAN MENGHIDUPKAN KIPAS ANGIN, INI BAHAYANYA".CEK FAKTANYA

Beredar informasi di media sosial mengenai bahaya penggunaan kipas angin yang dihadapkan ke tubuh ketika tidur di malam hari. Tiga buah foto yang digabung menjadi satu dan diunggah ke media sosial memperlihatkan efek penggunaan kipas angin yang mengakibatkan penyakit parah yang berujung kematian.



Di foto-foto tersebut, tampak seorang pria yang tidur dengan hembusan kipas angin. Di foto lain, ada momen pria tersebut seolah-olah dirawat di rumah sakit. Lalu, gambar saat suasana pemakaman. Kesan yang muncul rangkaian peristiwa tadi adalah sebuah akibat dari tidur menggunakan kipas angin.

Informasi tersebut diunggah dan di-share oleh sejumlah pengguna media sosial sambil mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penggunaan kipas angin yang terlalu dekat dengan tubuh ketika tidur. Apakah informasi ini benar atau hoax?

Investigasi:

Dari hasil penelusuran detikcom, informasi tersebut berasal dari artikel di sebuah situs online yang diunggah di media sosial Facebook. Artikel tersebut berjudul 'Waspada! Inilah yang Akan Terjadi Pada Tubuh Anda Jika Tidur Pakai Kipas Angin Mengarah Ke Badan'.

Sebuah foto yang menampilkan seorang pria yang tidur dan di dekatnya terpasang sebuah kipas angin telah tersebar di media sosial sebagai ilustrasi beberapa berita tentang bahaya menggunakan kipas angin terlalu dekat ke tubuh manusia. Sementara foto kedua yaitu foto seorang pria yang terbaring di rumah sakit dan foto ketiga yang menampilkan proses penguburan jenazah yang dikombinasikan dengan foto pertama hanya diunggah sebagai ilustrasi untuk berita tersebut.

Menurut artikel tersebut, ada 6 dampak yang akan dialami manusia apabila mengarahkan kipas angin terlalu dekat ke badan ketika tidur saat malam. Dampak negatif yang ditimbulkan yaitu tubuh kekurangan oksigen, suhu tubuh menurun drastis, dehidrasi, gejala hipotermia, penyakit Bell Palsy (peyakit yang meyerang sistem saraf wajah) dan menyebabkan kematian.

Namun tak ada penjelasan valid tentang ketiga foto yang dikombinasikan tersebut di dalam artikel yang ditulis. Tak ada sumber hingga informasi yang jelas apakah benar foto pria yang sedang tidur tersebut merupakan pria yang sama dengan foto seseorang yang terbaring lemah di rumah sakit serta foto jenazah yang tengah dikuburkan.
detikcom juga mengkonfirmasi 6 dampak yang dialami manusia akibat kipas angin tersebut kepada dr Ahmad Yanuar Safri, SpS, Wakil Koordinator Penelitian Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dokter spesialis saraf tersebut mengatakan belum ada laporan khusus tentang kematian yang disebabkan oleh kipas angin.

"Sampai saat ini tidak ada laporan khusus yang mengungkapkan kipas angin yang disorotkan ke anggota badan menyebabkan kematian. Kalau sakit jantung itu berhubungan dengan darah tinggi, merokok dan kencing manis," ujar Ahmad saat berbincang dengan detikcom, Senin (14/3/2016).

Menurutnya suhu tubuh dapat menurun karena ada perputaran udara lewat kulit. Perubahan suhu juga akan berdampak kepada tubuh, namun menurutnya di dalam tubuh sendiri masih dapat dikontrol oleh otak dan susunan syaraf.

"Misalnya Bell Palsy, itu terjadi karena kontraksi otot saraf ke-7 yang ada di wajah sehingga bentuk wajah menjadi tak seimbang (mencong), kemudian kelopak mata sulit menutup. Ini biasa terjadi tiba-tiba, salah satu teorinya terjadi karena reaktivasi dari virus biasanya terjadi pada suhu dingin. Secara logis bisa terjadi, tapi belum ada penelitian yang menyatakan hubungan sebab-akibat yang kuat," jelasnya.

Hal yang sama dibenarkan oleh dr Widya Eka Nugraha dari RS Medika Dramaga, Bogor. Lulusan S2 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan Radbound University Belanda tersebut mengatakan penyebab tersering dari kematian mendadak adalah penyakit jantung koroner yang didahului oleh serangan jantung (angina pectoris), atau angin duduk.

"Angina pectoris inilah yang oleh masyarakat umum disebut 'angin duduk', sehingga menjadi cikal-bakal dari munculnya mitos, kipas angin terlalu dekat menyebabkan kematian mendadak. Yang betul adalah proses terjadinya penyakit jantung koroner terbentuk secara bertahap, bisa karena faktor risiko seperti merokok, penyakit diabetes melitus (kencing manis), terlalu sering makan makanan berlemak dan miskin serat, serta kurang olahraga," jelas Widya.

Lantas kenapa ada laporan dari masyarakat tentang anggota keluarga mereka yang tewas setelah memasang kipas angin terlalu dekat? Menurutnya hal itu mungkin disebabkan beberapa hal.

"Umumnya angina pectoris muncul setelah beraktivitas, sehingga wajar apabila setelahnya orang mencari kipas angin untuk mendinginkan tubuh. Secara bersamaan, munculah serangan jantung atau angina pectoris tersebut. Kedua hal ini tidak berhubungan, melainkan hanya dua kejadian yang muncul di waktu yang sama," jelas dia.

Widya mengatakan, Angina pectoris secara umum dirasakan sebagai sensasi tidak nyaman pada daerah dada dan sekitarnya. Bisa seperti diremas, ditekan, terasa berat, atau terasa panas seperti terbakar. Sebagian orang berpikir bahwa sensasi ini dapat dihilangkan dengan kipas angin, padahal tidak demikian adanya. Justru ketika pasien terlambat mencari pertolongan, maka angkat kematian jadi semakin besar.

"Jadi kipas angin bukan merupakan penyebab kematian mendadak, melainkan penyakit jantung koroner. Kejadian meninggalnya seorang pasien penyakit jantung koroner dengan kipas angin adalah dua hal tidak berhubungan yang terjadi bersamaan," tutupnya.

Kesimpulan:

Foto yang dijadikan ilustrasi untuk artikel tersebut tidak benar atau hoax. Karena tak ada data valid yang menunjukkan hubungan antara ketiga foto tersebut di dalam artikel. Sementara penggunaan kipas angin yang terlalu dekat saat tidur dapat menyebabkan kematian tidak benar, karena faktor utama yang dapat menyebabkan kematian mendadak adalah penyakit jantung koroner yang didahului oleh serangan jantung.

Sumber: detik | kominfo

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel